Kamis, 27 Desember 2012

SEJARAH RINGKAS SEMINARI ST. FRANSISKUS XAVERIUS KAKASKASEN (Bagian II)

LAHIRNYA SEMINARI KAKASKASEN
            Bertambahnya siswa-siswa ternyata menjadi kendala bagi pihak seminari sebab kompleks yang ada di Woloan sudah tidak dapat lagi menampung mereka semua. Untung dapat dibeli tanah kompleks radio pemerintah di Kakaskasen yang dijual karena stasiunnya akan dipindahkan ke tempat yang lain. pembangunan fisik mulai dilaksanakan pada 1 januari 1936 oleh Br. Boers c.s dibantu oleh sukarelawan mapalus umat katolik Woloan, Tomohon, Kakaskasen dan desa-desa sekitar. Gedung tersebut diberkati oleh Mgr. W. Panis pada tanggal 4 november 1936. Dalam upacara pemberkatan gedung seminari, hadir hampir semua tenaga Misi wilayah Prefektur Apostolik Manado, Residen Manado bersama anggota pimpinan pemerintah yang lain. gedung baru itu pada mulanya dipergunakan untuk tahun filsafat dan tingkat Rhetorica. Tingkat-tingkat yang lain masih tinggal di Woloan.
            Pembangunan dilanjutkan lagi dan akhirnya selesai pada bulan agustus 1937. Dengan demikian maka tahun sekolah 1937-1938 dapat dimulai dengan lancer. Kompleks seminari ini terdiri dari seminari menengah yang bernama Seminari Theresianum dan Seminari Agung bagian filasafat yang bernama Seminari Xaverianum. Sementara itu perang mulai berkecamuk di Eropa yang menyebabkan putusnya hubungan antara para Misionaris dengan netherland. Pada tanggal 10 januari 1942, tentara Jepang mendarat melalui laut dan udara. Melihat hal ini maka direktur seminari Pater C. De Bruyn memerintahkan supaya para murid segera menyingkir dan pulang ke kampong untuk menghindari serangan tentara buas ini. Dalam waktu yang singkat seminari Kakaskasen diduduki. Para pastornya ditawan. Gedung seminari dijadikan sekolah pertanian, dan kemudian menjadi tempat penyimpanan alat-alat perang. Ketika sekutu mengetahui hal itu, mulailah kompleks seminari di-bom. Akibatnya begitu parah bahkan kapel seminari hancur berkeping-keping. Kompleks seminari tingal reruntuhan puing berserakan. Yang Nampak masih kokoh, walaupun tinggal sebagian adalah altar. Tidak hanya itu saja, harta benda seminari juga dijarah dan gedung seminari sempat dipakai sebagai tempat penampungan warga dan keluarga Belanda yang dinyatakan sebagai tawanan perang. Hancurnya gedung seminari Kakaskasen menyebabkan seminari kembali ke Woloan. Demikian pada tanggal 1 januari 1946 dalam gedung Normaalschool dibukalah sekolah Tarcisius dengan Pastor Hendriks sebagai direkturnya. Murid yang diterima berjumlah 19 orang dengan derajat pengetahuan kelas 5 sekolah dasar.

SEMANGAT BARU
            Tahun 1948-1949 seminari menengah mulai melangkah maju. Waktu itu Kelas Sexta dimulai dengan 15 murid. Pada waktu itu juga kompleks seminari Kakaskasen yang hancur mulai diperbaiki dan dibangun lagi. Dengan giat dan cepat Br. Boers melaksanakan tugas pembangunannya, sehingga sesudah liburan yang panjang tahun 1949, yaitu pada bulan September, siswa-siswa dapat langsung ke seminari Kakaskasen. Pada waktu itu kelas Quinta berjumlah 15 orang, kelas Sexta 10 orang dan kelas Probatorium 25 orang. Salah satu cirri khas seminari yaitu adanya aturan dan disiplin sebagai calon imam. Sebab tanpa aturan dan disiplin maka hampalah pendidikan di seminari. Hal ini ditekankan lagi oleh Duta Vatikank, Mgr. G. de Jonghe D’Ardoye pada waktu kunjungannya tanggal 21 september 1951. Pada kunjungannya ke seminari, duta Vatikan member perhatian khusus kepada para calon imam dan beliau menegaskan bahwa hidup para calon imam harus ditandai oleh Ibadah, Pengetahuan dan Disiplin.
            Tahun 1953-1954, Rhetorica pertama muncul. Mereka telah menyelesaikan tahun-tahun pelajarannya di seminari dan akan melanjutkan studinya ke seminari tinggi. Dari tahun ke tahun jumlah di tingkat atas terus bertambah dan langsung ke seminari tinggi Pineleng.

(Bersambung...)
Related Articles

Tidak ada komentar:

Posting Komentar